Dari Udara, Kapolda NTT Pantau Dampak Gempa di Palue, Riung dan Mbay.
Tribratanewskupangkota.com — Di tengah situasi pascagempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah Flores, Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur memilih bergerak cepat.
Jumat pagi, 21 Agustus 2026, Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., bersama jajaran teras Polda NTT bertolak dari Bandara Frans Seda Maumere untuk meninjau langsung sejumlah wilayah yang terdampak.
Helikopter Polri tipe B429 dengan nomor registrasi P-3202 mengudara dari Bandara Frans Seda Maumere sekitar pukul 09.05 Wita. Penerbangan tersebut membawa misi yang jauh lebih penting dari sekadar perjalanan dinas: memastikan kondisi lapangan benar-benar diketahui dari dekat, memastikan jajaran kepolisian siap menghadapi setiap kemungkinan, serta memastikan masyarakat yang berada di wilayah terdampak tidak merasa ditinggalkan.
Dari Maumere, rombongan Kapolda NTT bergerak menuju Riung, Kabupaten Ngada; Mbay, Kabupaten Nagekeo; dan Palue, Kabupaten Sikka. Tiga wilayah tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja Kapolda NTT dalam rangka melihat secara langsung dampak gempa bumi Flores sekaligus meninjau sejumlah lokasi yang nantinya akan menjadi bagian dari agenda kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Pergerakan cepat tersebut menjadi penting karena dalam situasi pascabencana, laporan di atas kertas tidak selalu mampu menggambarkan keadaan sesungguhnya. Kondisi masyarakat, akses menuju lokasi, kesiapan personel, sarana prasarana, hingga potensi gangguan keamanan membutuhkan pengamatan langsung dan keputusan cepat.
Karena itu, kehadiran Kapolda NTT di lapangan membawa pesan yang tegas: penanganan bencana tidak boleh hanya menunggu laporan, tetapi harus mendatangi langsung titik persoalan. Rute penerbangan Kapolda NTT dirancang menyentuh tiga wilayah strategis, yakni Riung, Mbay, dan Palue, sebelum rombongan kembali ke Bandara Frans Seda Maumere.
Perjalanan tersebut sekaligus menjadi bentuk pemantauan menyeluruh terhadap situasi pascagempa di sejumlah wilayah Flores. Dengan menggunakan helikopter, mobilitas pimpinan kepolisian dapat dilakukan secara lebih cepat sehingga kondisi di sejumlah daerah dapat dipantau dalam waktu yang relatif singkat.
Di balik setiap titik yang didatangi, terdapat kepentingan yang sama: memastikan masyarakat aman, memastikan personel siap bergerak, serta memastikan seluruh unsur terkait memiliki gambaran yang sama mengenai kondisi lapangan.
Gempa bukan hanya meninggalkan kerusakan fisik. Dalam banyak situasi, bencana juga melahirkan kecemasan, ketidakpastian, gangguan aktivitas masyarakat, hingga potensi munculnya persoalan keamanan baru. Karena itu, respons kepolisian dituntut tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif dan adaptif. Kapolda NTT bersama jajaran turun untuk membaca situasi tersebut dari dekat.
Dalam kunjungan tersebut, Kapolda NTT didampingi Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, S.I.K., M.H., Dirpolairud Polda NTT Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, S.I.K., M.H., Koorspripim Polda NTT Kompol M. Ichwan Nugraha, S.I.K., M.Si., serta Ba Produk Polda NTT dari unsur Humas.
Kehadiran sejumlah pejabat utama Polda NTT menunjukkan bahwa agenda tersebut memiliki bobot strategis. Pemantauan bukan hanya menyangkut persoalan keamanan, tetapi juga koordinasi, pengamanan wilayah, komunikasi publik, serta kesiapan menghadapi agenda kunjungan pejabat negara ke daerah terdampak.
Sementara itu, keberangkatan rombongan turut dilepas oleh Dirintelkam Polda NTT Kombes Pol. Danang Kuswoyo, S.I.K., dan Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K. Dari Bandara Frans Seda Maumere, koordinasi antara jajaran Polda NTT dan Polres Sikka menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan lancar.
Kehadiran pimpinan kewilayahan di titik keberangkatan juga memperlihatkan bahwa setiap pergerakan dalam situasi pascabencana membutuhkan kesiapan berlapis. Tidak ada ruang untuk lengah ketika kondisi wilayah masih berada dalam fase pemulihan.
Kunjungan Kapolda NTT ke wilayah terdampak gempa membawa makna yang lebih luas. Di tengah masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana, kehadiran pejabat negara dan aparat keamanan memiliki arti psikologis. Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa mereka tidak menghadapi situasi sulit sendirian. Kehadiran pimpinan kepolisian secara langsung menjadi simbol bahwa negara masih berada di tengah mereka.
Bukan hanya melalui personel yang ditempatkan di lapangan, tetapi juga melalui keputusan dan kebijakan yang diambil berdasarkan kondisi nyata. Sebab, bencana tidak mengenal batas administrasi. Ketika satu wilayah terdampak, wilayah lain pun harus ikut bersiap. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan, seluruh kekuatan negara harus mampu bergerak dalam satu irama.
Dalam konteks itulah, kunjungan Kapolda NTT menjadi penting. Ia tidak hanya melihat apa yang telah terjadi, tetapi juga membaca apa yang mungkin terjadi berikutnya. Selain meninjau dampak gempa, perjalanan Kapolda NTT juga berkaitan erat dengan kesiapan lokasi yang akan dikunjungi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Agenda tersebut tentu membutuhkan kesiapan pengamanan yang matang. Setiap titik kunjungan harus dipastikan aman, akses harus dipetakan, koordinasi antarinstansi harus berjalan, dan kondisi masyarakat di sekitar lokasi harus menjadi perhatian.
Polri memiliki posisi penting dalam memastikan seluruh rangkaian agenda kenegaraan tersebut berlangsung aman tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat terdampak bencana.
Karena itu, pemantauan Kapolda NTT ke sejumlah wilayah dapat dibaca sebagai langkah awal untuk memastikan seluruh unsur pengamanan dan pelayanan publik benar-benar siap menghadapi agenda besar tersebut.
Tidak boleh ada keterlambatan dalam merespons persoalan. Dan yang paling penting, kepentingan masyarakat terdampak tetap harus menjadi prioritas.
Jumat pagi itu, helikopter Polri yang membawa Kapolda NTT dan rombongan meninggalkan Bandara Frans Seda Maumere. Dari udara, rombongan bergerak menuju sejumlah wilayah yang menjadi sasaran pemantauan.
Perjalanan tersebut menggambarkan satu hal penting: Flores sedang menghadapi masa yang membutuhkan solidaritas, kecepatan, dan kehadiran negara secara nyata. Kapolda NTT memilih hadir langsung. Bukan hanya menerima laporan. Bukan hanya melihat data. Tetapi datang ke wilayah yang menjadi sasaran pemantauan untuk memastikan sendiri apa yang terjadi di lapangan.
Rombongan dijadwalkan mengunjungi tiga wilayah, yakni Riung di Kabupaten Ngada, Mbay di Kabupaten Nagekeo, dan Palue di Kabupaten Sikka, sebelum kembali ke Kota Maumere sekitar pukul 11.00 Wita. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dan memastikan seluruh kekuatan kepolisian siap menghadapi dinamika pascabencana.
Bencana selalu menyisakan cerita tentang kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian. Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang paling dibutuhkan masyarakat: kepastian bahwa mereka tidak sendirian.
Karena itu, kehadiran Kapolda NTT bersama rombongan di wilayah terdampak menjadi pesan yang kuat. Negara hadir. Polri hadir. Dan kehadiran itu harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Dari Bandara Frans Seda Maumere, perjalanan Kapolda NTT menuju tiga wilayah Flores menjadi bagian dari mata rantai respons terhadap situasi pascagempa. Langkah tersebut sekaligus mempertegas bahwa keamanan, keselamatan masyarakat, kesiapan menghadapi bencana, dan kelancaran agenda kenegaraan harus berjalan beriringan.
Kepemimpinan harus turun ke lapangan, melihat langsung persoalan, mendengar kondisi masyarakat, lalu memastikan seluruh kekuatan bergerak untuk menjawab kebutuhan mereka.
Dan pagi itu, dari Maumere, langkah tersebut kembali dimulai. Helikopter mengudara. Tiga wilayah menjadi sasaran. Pimpinan kepolisian bergerak. Pesannya sederhana namun tegas: ketika masyarakat menghadapi bencana, negara tidak boleh berjarak—negara harus hadir, bergerak, dan memastikan rakyat terlindungi. [Cm24]
Humas Polresta Kupang Kota

